Antioksidan

Antioksidan

Jang Edi

Antioksidan vs Radikal Bebas

Radikal bebas banyak terdapat di sekitar kita dan bisa menimbulkan gangguan kesehatan. Antioksidan bereaksi untuk memperkuat pertahanan diri.       Masyarakat kota besar tanpa disadari ternyata punya banyak tabungan. Bukan dalam bentuk uang atau deposito melainkan berupa racun, tersimpan dalam tubuh. Berbagai jenis polutan seperti asap kendaraan bermotor, asap rokok, sinar matahari atau makanan yang tercemar zat kimia, bisa menyebabkan kesehatan terganggu. Penyakit seperti kanker, diabetes melitus, stroke, jantung koroner dan lain-lain, terasa semakin menjadi ancaman dan akrab di telinga.       Keberadaan penyakit-penyakit tersebut diduga berkaitan erat dengan adanya radikal bebas, yang salah satu sumbernya berasal dari lingkungan (polutan). Selain berasal dari luar tubuh, radikal bebas ternyata juga dihasilkan oleh tubuh. “Radikal bebas adalah suatu zat atau bahan kimia yang terbentuk dalam tubuh, sebagai akibat dari metabolisme oksidasi,” ujar Dr. Drupadi HS Dillon, Phd, SpGk, dari Departemen Ilmu Gizi FKUI. Untuk menangkal radikal bebas diperlukan zat lain, di sinilah antioksidan berperan.       Sebenarnya, radikal bebas tidak jahat-jahat amat. Ia punya arti penting bagi kesehatan dan fungsi tubuh yang normal. Menurut Denny Wahyudi, Ssi., Apt, terkadang sistem imun membuat radikal bebas, untuk menetralisir virus atau bakteri. Ketika kuman masuk ke dalam tubuh, sel darah putih (leukosit) akan menghancurkan kuman dimaksud dengan bantuan radikal bebas. Fungsi lainnya adalah memerangi peradangan, mengendalikan tonus otot polos pembuluh darah dan organ-organ dalam tubuh kita. Tapi, jika jumlah radikal bebas berlebihan, ia akan menjadi ancaman bagi tubuh. Hal ini karena sifatnya yang sangat tidak stabil atau reaktif.       Sifat liar radikal bebas karena ia hanya punya satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan. Agar stabil, layaknya jomblo mencari pacar, radikal bebas bereaksi dengan mencari pasangan. Sayangnya, yang disambar adalah elektron dari molekul lain. Pasangan yang “pacarnya” (elektronnya) diambil ngambek dan ikut-ikutan menjadi radikal bebas. “Kejadian tersebut menimbulkan efek domino dan dapat menimbulkan banyak sel yang rusak. Dampaknya akan semakin buruk bagi kesehatan,” ujar Denny. Radikal bebas dapat merusak molekul makro pembentuk sel, yaitu protein, karbohidrat (polisakarida), lemak dan DNA. Akibatnya sel rusak, mati atau bermutasi. Berbagai penyakit degenaratif pun muncul.       Tubuh mempunyai sistem keamanan sendiri, untuk menjaga agar radikal bebas tidak merajalela dengan membentuk zat antioksidan. Antioksidan yang diproduksi oleh tubuh (antioksidan endogen) berupa enzim, yaitu superoksida dismutase, glutation peroksidase dan katalase. Ketiganya bahu membahu melawan radikal bebas.       Selain enzim yang dihasilkan oleh tubuh, antioksidan juga dapat diperoleh dari sumber makanan sehari-hari yang kaya vitamin A, vitamin C dan vitamin E. Juga betakaroten dan flavonoid yang diperoleh dari tumbuhan. Asupan antioksidan dari luar (eksogen), dapat membantu kerja antioksidan enzimatik

      Penyakit Akibat Radikal Bebas

      Proses penuaan dan penyakit generatif seperti kanker, ateroklerosis (penyumbatan dan penyempitan pembuluh darah), stroke, tekanan darah tinggi, katarak serta terganggunya sistem imun tubuh, merupakan beberapa penyakit yang berkaitan dengan aktivitas radikal bebas. Salah satu yang ditakuti adalah menjadi tua. Proses penuaan sering disertai dengan berbagai penyakit. Sebagai contoh keriput, yang terjadi pada kulit. Radikal bebas akan merusak lemak yang merusak membran sel, sehingga kulit kehilangan ketegangannya (rigor) dan muncullah keriput. Efek penuaan tersebut sebenarnya dapat ditahan, karena sel epidermis mengandung antioksidan seperti vitamin E, vitamin C, glutation, superoksidase dismutase dan katalase, yang mampu mengubah dan memadamkan potensi merusak radikal bebas.       Penyakit lainnya adalah ateroklerosis. Menurut Wiwin Dwi Prasetiyo, PE NourishSkin Ultimate, pada pembuluh darah, oksidasi lemak dalam lipoprotein densitas rendah (LDL) dan lipoprotein densitas sangat rendah (VLDL) yang sebagian besar terdiri dari minyak jenuh, dapat menyebabkan penyumbatan dan penyempitan pembuluh darah. Jika terjadi di jantung akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner (PJK) dan jika terjadi pada otak akan menyebabkan stroke. Menurut Dr. Drupadi, kekurangan selenium dihubungkan dengan risiko stroke dan infark miokard. Ateroklerosis dapat dicegah dengan menghambat oksidasi LDL, menggunakan antioksidan yang banyak terdapat dalam bahan pangan.      Untuk kanker, para ahli kesehatan sepakat bahwa penyakit ini terjadi karena adanya mutasi gen atau DNA sel. Selain karena kesalahan replikasi dan kesalahan genetika, mekanisme perubahan pada mutasi gen dapat terjadi karena faktor luar struktur DNA, seperti virus, polusi, radiasi atau dari konsumsi pangan. Pada mutasi gen ini, radikal bebas dan reaksi oksidasi jelas ikut berperan. Risiko dapat dikurangi dengan mengonsumsi antioksidan dalam jumlah yang cukup.      Penyakit lain yang sering menyerang lansia adalah katarak. Pada lensa mata terjadi kekeruhan, akibatnya penglihatan berkurang bahkan bisa menyebabkan kebutaan. Hal ini terjadi karena sinar matahari dan pembawa oksigen sangat rentan terhadap sinar penyebab peroksidasi lemak. “Kerusakan oksidatif oleh rangsangan sinar pada mata, dapat menyebabkan katarak senilis,” ujar dr. Drupadi. Beberapa studi menunjukkan, orang yang konsentrasi plasma darahnya tinggi akan 2 atau 3 jenis antioksidan, berisiko terserang katarak lebih rendah dibandingkan orang yang konsentrasi antioksidannya satu atau lebih rendah lagi.      Penyakit lain akibat polutan adalah penyakit pada paru. Proses pembakaran pada mesin mobil, menimbulkan senyawa kimia beracun, nitrogen dioksida (NO2) yang menghasilkan ozon. Asap rokok yang tersusun lebih dari 3.000 senyawa kimia, salah satunya adalah NO2. Kedua senyawa ini dapat merusak paru-paru dengan menyerang lemak tak jenuh dalam membran sel. Seperti dilaporkan Journal of American Chemical Society (1981), antioksidan dapat menurunkan bahaya serangan paru-paru serta melindungi jaringan tubuh dari polusi.

      Makanan Antioksidan

      Buah-buahan, sayur-sayuran dan biji-bjian merupakan sumber antioksidan yang baik dan bisa meredam reaksi berantai radikal bebas. Tomat mengandung likopene, yaitu antioksidan yang ampuh menghentikan radikal bebas sehingga tidak berkeliaran mencari asam lemak tak jenuh dalam sel. Lutein dan zeasantin yang terdapat pada bayam, diketahui aktif mencegah reaksi oksidasi lipid pada membran sel lensa mata, sehingga kesehatan mata bisa terjaga dari gangguan katarak.       Biji matahari, kacang-kacangan, telur dan ikan adalah sumber vitamin E. Sedangkan sumber vitamin A bisa didapat dari telur, hati, daging, minyak ikan, mentega, margarine dan lain-lain. Zat-zat lain yang dibutuhkan tubuh sebagai antioksidan, seperti karotenoid, seng, managan, tembaga dan selenium, juga banyak tersedia dalam sayuran, buah-buahan, serealia, hati, ikan dan lain lain.       Namun, “Tak satu pun bahan makanan yang mengandung semua zat gizi secara lengkap,” ujar dr. Drupadi. Sebab itu, menu yang bervariasi atau beragam akan menjamin tersedianya kelengkapan zata gizi. Dan jumlahnya harus disesuaikan dengan kebutuhan. (di) 

Advertisements

~ by deutsch00 on August 9, 2007.

2 Responses to “Antioksidan”

  1. PERTAMAX…. YESSS!

  2. hasil karya wartawan 2000 nih, mantab lah di…kalo bisa artikel ttg “kiat jitu menurunkan berat badan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: